Struktur Produksi dan Kemiskinan

1. Kemiskinan

Kemiskinan pada dasarnya selalu berkaitan dengan pendapatan dan kebutuhan. Menurut Kincaid (1985) Kemiskinan akan selalu ada dan meningkat  apabila terjadi ketimpangan atau ketidak seimbangan antara pendapatan orang-orang sehingga tercipta orang yang kaya dan orang yang miskin.

Kemiskinan adalah Keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan Kemiskinan merupakan akibat dari terjadinya ketimpangan atau ketidak sama rataan dalam pendistribusian pendapatan masyarakat sehingga ada yang berpenghasilan Tinggi dan kebutuhannya tercukupi dan yang berpenghasilan rendah yang kebutuhannya tidak tercukupi ataupun  pas-pasan.

Di Indonesia Kemiskinan merupakan salah satu masalah pokok yang harus diatasi. Di Indonesia jumlah masyarakat yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan lebih banyak dari pada masyarakat berpendapatan tinggi. Hal inilah yang harus diperbaiki agar perekonomian dapat berkembang dan maju.

1.1  Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

Kemajuan ekonomi dan Pertumbuhan ekonomi yang masih rendah.

Kebijakan dalam negeri yang dipengaruhi kebijakan Internasional.

Penyebab Individual, Orang tersebut miskin karena tidak punya keahlian atau malas, Faktor penyebabnya intern masing-masing individu.

Penyebab Keluarga, Keluarga yang miskin sehingga tidak mampu memberikan pendidikan.

Penyebab Sub-Budaya (Subcultural) yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari.

Penyebab Agensi, Miskin disebabkan faktor lain atau akibat perbuatan orang lain, Contohnya Pemerintah, Perang.

Penyebab Struktural, Kemiskinan merupakan hasil dari Struktur sosial misalnya kasta di Bali.

Tingkat kemiskinan cukup banyak.

Mulai dari tingkat dan laju pertumbuhan output ( produktivitas tenaga kerja ).

Tingkat inflasi.

Tinggat Infestasi.

Alokasi serta kualitas sumber daya alam.

Tingkat dan jenis pendidikan.

Etos kerja dan motivasi pekerja.

1.2. Kategori  kemiskinan:

Kemiskinan Absolut:

Konsep kemiskinan absolut berkaitan dengan pendapatan dan kebutuhan pokok/dasar (basic need) tidak terpengaruh pada waktu dan tempat / negara. Kemiskinan digolongkan kedalam dua bagian yaitu:

ü       Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

ü       Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.

Kemiskinan Relatif:

Konsep kemiskinan relatif adalah semakin besar ketimpangan antara tingkat hidup orang kaya dan miskin maka semakin besar jumlah penduduk yang selalu miskin (Kincaid, 1975).

1.3. Konsep dalam mengurangi kemiskinan:

v Pembangunan sektor pertanian

Pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi besar atas pendapatan masyarakat pedesaan. Dengan meningkatkan sektor pertanian maka pendapatan akan meningkat dan mengurangi kemiskinan. Cara peningkatan Sektor pertanian adalah meningkatkan Infrastruktur dan Teknologi pertanian.

v Pembangunan sumber daya manusia

Dengan peningkatan Kinerja SDM maka hasil yang diperoleh akan lebih besar dan akan berefek terhapap pengurangan kemiskinan. Sumber daya manusia merupakan salah satu bahan dalam menghasilakn pendapatan, yaitu orang yang memproduksi atau mengahsilakan sesuatu. Sumber Daya Manusia harus diberikan Subsisdi pendidikan, Asupan Gizi dan kesehatan oleh pemerintan untuk meningkatkan kinerja mereka.

v Peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

LSM dapat membuat rancangan dan program pemberantas kemiskinan karena LSM merupakan lembaga yang dekat dengan masyarakat.

1.4. Upaya dalam menghilangkan kemiskinan:

Memberikan bantuan kemiskinan secara langsung kepada oarang miskin.

Bantuan terhadap keadaan Individu. Kebijakan Untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, Misalnya bantuan Pendidikan, Pembekalan keterampilan, kerja sosial, Dll.

Persiapan bagi yang lemah. Memeberikan bantuan secara langsung kepada orang yang miskin secara alami, misalnya orang cacat fisik atau mental diberikan bantuan obat atau perawatan kesehatan.

1.5.  Garis Kemiskinan

Garis kemiskinan merupakan patokan terpenting untuk mengukur tingkat kemiskinan suatu negara. Dengan garis kemiskinan dapat dibuat kebijaksanaan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan perkiraan tentang kemiskinana terkait dengan tolok ukur garis kemiskinan tsb. Perkiraan tentang garis kemiskinan dengan beberapa pendekatan, misalnya kebutuhan minimum, atau kebutuhan dasar. Perkiraan , garis kemiskinan di Indonesia telah banyak dilakukan oleh para ahli seperti Esmara, Sayogya, Booth dsb. Dalam konsep kemiskinan mutlak,

Garis kemiskinan merupakan pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin. Sedangkan dalam konsep kemiskinan relatif, pendapatan yang sudah di atas garis kemiskinan ,namun masih jauh lebih rendah kondisinya dibandingkan keadaan masyarakat sekitar, maka orang atau keluarga tersebut masih berada dalam keadaan miskin.

1.6.  Tingkat Kemiskinan

Pada dasarnya terdapat dua pendekatan di dalam mengukur tingkat kemiskinan yaitu:

Head-count measure (Ukuran Jumlah Orang), yaitu memperkirakan jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

Poverty gap, yaitu memperhitungkan jumlah dana yang diperlukan untuk mengatasi masalah kemiskinan.

Ukuran jumlah orang (head-count measure) di dalam menentukan tingkat kemiskinan diperoleh dari :

K = q/n . 100

Ket:

K = tingkat kemiskinan

q = jumlah penduduk miskin atau berada dibawah garis kemiskinan

n = jumlah penduduk

Sedangkan ukuran kesenjangan kemiskinan (poverty gap) dilakukan berbagai bentuk tergantung tujuan yang ingin dicapai dengan ukuran tsb.

Di samping perkiraan jumlah dana yang harus disediakan untuk menghapus kemiskinan, tidak jarang pula ukuran ini dinyatakan secara relative, yakni perbandingan antara jumlah kesenjangan kemiskinan dengan variable lain seperti PDB, jumlah pendapatan penduduk miskin, jumlah pendapatan penduduk tidak miskin, jumlah pengeluaran pemerintah, jumlah BLN atau nilai ekspor.

Perlu diketahui bahwa kesenjangan kemiskinan diukur dengan memperlihatkan

perbedaan tingkat pendapatan penduduk miskin dengan garis kemiskinan, rumus:

PG = GK – Yp

Ket :

PG = kesenjangan kemiskinan

GK = garis kemiskinan

Yp = pendapatan penduduk miskin

Bila kesenjangan kemiskinan diukur secara relatif , dapat diperoleh dengan cara :

%PG = PG/ Vt . 100%

Ket:

%PG = kesenjangn kemiskinan relatif

Vt = variabel tertentu secara per kapita, seperti PDB, bantuan luar negeri, pendapatan penduduk miskin, jumlah pengeluaran pemerintah, dsb.

 

Sumber Informasi:

http://matakuliah.files.wordpress.com/2007/09/kemiskinan.pdf

http://galihpangestu14.wordpress.com/2011/04/22/struktur-produksi-distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s