Aside

Kelas / NPM   : 2EB01 / 24211301

TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER

 Transmisi merupakan Jalur atau jalan yang dapat dilakukan. Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang mengatur kestabilan nilai rupiah melalui kuasa BI sebagai bank sentral. Sehingga Transmisi kebijakan moneter dapat disimpilkan sebagai Jalur yang diambil oleh BI sebagai bank sentral dalam mempengaruhi perekonomian secara agregat.

Tujuan utama BI adalah menjaga kestabilan nilai rupiah yang dicerminkan pada permintaan atas barang dan jasa di pasar. Pada akhirnya untuk menilai keberhasilan BI dalam menjaga kestabilan nilai rupiah dapat dilihat dari tingkat inflasi yang redah dan stabil. Namun dalam penerapannya dari masing-masing jalur akan memberikan efek yang akan muncul dalam kisaran waktu yang bebeda, karena transmisi ini membutuhkan waktu (time lag). Cepat atau lamanya tergantung dari dampat yang diberikan oleh suku bunga terhadap objeknya.

Transmisi kebijakan moneter juga disebut sebagai mekanisme BI Rate[1] mempengaruhi moneter, yaitu bagaimana BI dengan haknya yaitu menetapkan BI rate merubah perekonomian secara agregat. BI akan mempengaruhi perekonomian dan keuangan melalui instrumen-instrumen moneter seperti perbankan, sektor keuangan, dan sektor rill. Perubahan BI Rate dalam mempengaruhi inflasi dapat melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi. Masing-masing jalur tersebut akan memberikan cara yang berbeda dalam mempengaruhi perekonomian. Namun pada akhirnya akan mempengaruhi Inflasi yang juga akan mempengaruhi produk domestik bruto. Jalur suku bunga (Deposito dan kredit perbankan), Jalur kredit, dan jalur harga asset akan mempengaruhi inflasi melalui konsumsi dan investasi yang pasar lakukan. Sedangkan Jalur nilai tukar akan mempengaruhi nilai eksport dan import.

Pada jalur suku bunga, maka BI Rate akan mempengaruhi bunga pada deposito dan suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk mendorong aktifitas ekonomi.  Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan suku bunga kredit sehingga banyak perusahaan dan rumah tangga yang akan meminjam uang untuk investasi karena biaya untuk produksi akan menurun. Efeknya adalah produksi akan meningkat, apabila produksi meningkat maka penggunaan tenaga kerja pun akan meningkat dan pendapatan nasional masyarakat meningkat efeknya adalah permintaan atas barang dan jasa dipasar akan meningkat.  Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktifitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.

Mekanisme perubahan perekonomian melalui nilai tukar sering disebut jalur nilai tukar.  Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri.  Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrumen-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat  pengembalian yang lebih tinggi.  Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah[2]. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita. Sehingga harga produk kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif, dan permintaan dalam negeri atas produk luar lebih besar dari pada permintaan terhadap produk dalam negeri (Kondisi deflasi pada produk dalam negeri), sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Pada akhirnya nilai Import akan lebih besar dari pada nilai eksport sehingga aliran dana keluar (akibat import) akan lebih besar dari pada aliran dana masuk (akibat eksport). Ini akan membuat neraca pembayaran mengalami  defisit. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian. Oleh karena itu saat ini BI harus menurunkan BI Rate dengan maksud agar produksi dalam negeri meningkat dan permintaan agregat terhadap produk dalam negeri meningkat.

Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga asset.  Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi, karena permintaan terhadap investasi saham dan obligasi menurun (Akibat dari dana yang ada lebih banyak masuk dalam investasi kredit dan deposito). Ini akan mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.

Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi).  Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi.  Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini bekerja memerlukan waktu (time lag).  Time lag masing-masing jalur bisa berbeda dengan yang lain.  Jalur nilai tukar biasanya bekerja lebih cepat karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar bekerja sangat cepat.  Kondisi sektor keuangan dan perbankan juga sangat berpengaruh pada kecepatan tarnsmisi kebijakan moneter.   Apabila perbankan melihat risiko perekonomian cukup tinggi, respon perbankan terhadap penurunan suku bunga BI rate biasanya sangat lambat.  Juga, apabila perbankan sedang melakukan konsolidasi untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit dan meningkatnya permintaan kredit belum tentu direspon dengan menaikkan penyaluran kredit. Di sisi permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga belum tentu direspon oleh meningkatnya permintaan kredit dari masyarakat apabila prospek perekonomian sedang lesu.  Kesimpulannya, kondisi sektor keuangan, perbankan, dan kondisi  sektor riil sangat berperan dalam menentukan efektif atau tidaknya proses transmisi kebijakan moneter.

Tulisan ini dikutip dari website resmi milik BI dengan perubahan dari penulis

http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Transmisi+Kebijakan+Moneter/

Kesalahan informasi dan penulisan mohon dimaklumi, saran dan kritik sangat diharapkan. Copas harap sertakan link blog ini.


[1] BI rate merupakan suku bunga acuan bagi suku bunga instrumen moneter lainnya, dengan catatan intrumen lain tersebut dapat mengikutinya atau pun tidak.

[2]Nilai tukar uang dalam negeri terhadap luar negeri meningkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s